Oleh : Azhar Fakhru Rijal
Dalam perjalanan hidup manusia, dakwah memiliki banyak definisi yang selaras dengan esensi dari capaiannya. Dari mulai tabligh, amar-ma’ruf, nahi-munkar, tabsyir, indzaar sampai tadzkirah. Semua itu berujung kepada mengajak manusia untuk setia beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa, dengan sandaran yang sama kepada al-Quran dan sunah.
Meskipun begitu, indikator kesuksesan dakwah tidak serta merta dilihat dari kuantitas sasaran dakwah, namun sejauh mana kita istiqomah mengajak kepada kebaikan. Sehingga untuk sampai kepada tujuan, kiranya ada beberapa faktor-faktor yang bisa dimaksimalkan oleh para da’I dalam melanjutkan perjalanan dakwahnya.
Drs. Hamzah Yaqub dalam bukunya “Publisistik Islam” menjabarkan 5 faktor yang mempengaruhi publisistik dakwah;
Pertama, materi. Materi dalam sebuah gerakan adalah ideologi yang tersisipkan. Karena ideologi adalah titik pusat dalam sebuah gerakan, maka materi menjadi nyawanya. Dan ideologi dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri, yang berpangkal kepada al-Quran dan sunah. Kelebihan dakwah Islam adalah memiliki sandaran yang paten dan tidak pernah berubah, maka siapapun da’I nya dimanapun lokasinya materi yang harus tersampaikan akan selalu sama.
Kedua, masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan individu yang memiliki kondisi dan pemikiran yang beragam. Karena itu, sebelum mengajak sasaran dakwahnya seorang da’I perlu memahami betul karakter setiap masyarakat yang menjadi sasarannya.
“Untuk ini seorang da’I atau muballigh hendaknya memperlengkapi dirinya dengan pengetahuan ilmu jiwa (Psychologi), ilmu masyarakat (Sosiologi), ilmu politik, ilmu sejarah, anthropologi dan lain-lain ilmu yang bertalian dengan kemasyarakatan”.
Ketiga, da’I atau muballigh. Sebagai pelaksana dakwah, seorang da’I menjadi faktor penting teerselenggaranya dakwah. Seorang da’I harus memiliki syarat-syarat dan kemampuan tertentu agar dakwah terlaksana dengan baik. Meskipun begitu, pada prinsipnya seorang muslim berkewajiban berdakwah. Sehingga setiap muslim adalah da’I. sekalipun dalam praktiknya tidak semua muslim mampu berdakwah dengan sempurna. Namun bagaimanapun, muslim tetap wajib berdakwah menurut ukuran kesanggupan kesanggupan dan pengetahuan yang dimilikinya.
Keempat, media. Media sebagai sarana dalam penyampaian dakwah bisa dalam bentuk yang beragam. Lisan, tulisan, lukisan dan audio visual diantara media yang bisa dimanfaatkan dalam berdakwah. Namun, media paling besar adalah akhlak. Dakwah dengan akhlak atau suri tauladan adalah cara penyampaian langsung ditunjukan dalam bentuk perbuatan yang nyata. Sebagaimana kewajiban berdakwah setiap muslim sesuai dengan kapasitasnya, maka media dakwah pun bisa digunakan sesuai kemampuannya. Dalam bentuk apapun, selama media tersebut mendukung terlaksananya dakwah maka harus diusahakan.
Kelima, logistik. Drs. Hamzah Yaqub menyebut logistik sebagai salah satu media dakwah karena faktanya masyarakat kita masih lemah dari sisi iman dan logistik. Sehingga ketika pihak lain menggelontorkan kebutuhan masyarakat (sembako misalnya), bisa jadi akan melemahkan iman mereka.
“Keunggulan misi Kristen disuatu tempat, bukanlah karena aqidahnya yang benar. Dalam segi aqidah Islamlah yang unggul disbanding dengan agama dan ajaran apapun juga. Kelemahan kita antaran lain terletak pada kekurangan alat perlengkapan (logistik) dakwah, dimana Kristen lebih kuat dan lebih terorganisir” tulisnya.
Wallahu a’lam bisshowab.

